Home » Nasional » Wawancara (Imajiner) Tokoh Bangsa

Wawancara (Imajiner) Tokoh Bangsa

Oleh: M SUBHAN SD

Baru berusia 71 tahun (Proklamasi 1945), negeri ini serasa telah menua. Kalau menandai dengan peristiwa Sumpah Pemuda 1928, bangsa ini juga serasa cepat merapuh. Akhir-akhir ini, kohesi nasional rasanya merenggang.

Perbedaan yg pada masa Kebangkitan Nasional awal abad XX menjadi elemen perekat, sekarang justru unsur perenggang.

Dalam masalah dugaan penistaan agama yg dikerjakan Gubernur DKI Jakarta non-aktif Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, implikasinya luar biasa.

Sentimen primordial menguat, menggerus pilar-pilar persatuan. Kebinekaan yg menjadi kerangka bangsa ini seakan terkoyak.

Jangan-jangan banyak yg lupa pada Pancasila, falsafah yg menjadi pemersatu bangsa. Mendengar ’Pancasila’ segera teringat Soekarno (Bung Karno), penggali Pancasila, presiden pertama RI (1945-1967).

Bung, sebagai pelopor bangsa dan proklamator, apa yg terjadi dengan Indonesia sekarang ini?

Bung Karno: Kejadian-kejadian akhir-akhir ini, saudara-saudara, membuktikan sejelas-jelasnya bahwa jikalau tak di atas dasar Pancasila kami terpecah-belah, membuktikan dengan jelas bahwa cuma Pancasila-lah yg bisa tetap mengutuhkan negara kita, tetap bisa menyelamatkan negara kita.

Oleh karena itu, aku harap saudara- saudara nanti kalau aku telah menguraikan Pancasila ini terus ingat kepada background yg pada malam ini aku berikan kepada saudara-saudara, bahwa kalian membutuhkan persatuan dan bahwa Pancasila adalah kecuali sesuatu Weltanschauung adalah sesuatu alat pemersatu daripada rakyat Indonesia yg aneka warna ini (Peringatan Hari Pancasila, 1 Juni 1964).

Sebetulnya, bukankah kebinekaan Indonesia telah selesai. Generasi hebat yg dimiliki bangsa ini berhasil membangun tonggak-tonggak pencapaian luar biasa, seperti konsep ”satu tanah air, sesuatu bangsa, sesuatu bahasa” di dalam Sumpah Pemuda 1928.

Pada zaman dulu, perbedaan justru menyatukan. Sekarang, perbedaan malah dikorek-korek. Pada era otonomi sekarang ini, sentimen kedaerahan dan primordialisme justru menyembul ke permukaan.

Gerakan kedaerahan bergolak kuat pada dekade 1950-an yg menjadi ancaman disintegrasi, semisal pemberontakan PRRI/Permesta, RMS, Andi Azis, DI/TII, dan lain-lain.

Jadi teringat Letnan Jenderal TB Simatupang, Kepala Staf Angkatan Perang 1950-1953, yg harus berhadapan dengan gerakan-gerakan daerah tersebut.

Apa arti kedaerahan dalam bingkai Indonesia?

TB Simatupang: Saya bukanlah orang Jawa, aku adalah orang Indonesia yg lahir di Tapanuli. Namun sedikit pun aku tak pernah merasa asing selama pengembaraan di Pulau Jawa dalam perang kemerdekaan ini.

Syafruddin, putra Jawa Barat, yg memimpin segala perang rakyat ini dari pegunungan alam Minangkabau, pastilah tak mulai merasa dirinya asing di sana.

Demikian juga halnya dengan Hidayat, putra Jawa Barat, yg sedang memimpin perang rakyat di segala Sumatera; Simbolon yg lahir di Tapanuli dan sedang memimpin perang rakyat di Sumatera Selatan.

Kawilarang, Kawanua yg memimpin perang rakyat di Tapanuli dan sedang memimpin perang rakyat di Tapanuli dan Sumatera Timur.

Nasution yg lahir di Tapanuli dan sekarang menjadi Panglima Jawa; Sadikin, orang Banyumas yg memimpin perang di Jawa Barat.

Gatot Subroto, orang Banyumas yg memimpin perang rakyat di Solo; Sungkono, anak Banyumas yg memimpin perang kemerdekaan di Jawa Timur.

Sumber: http://nasional.kompas.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

webcounter