Home » Nasional » TNI, Polri, Dan BNN Diminta Tidak Terlalu Cepat Sebut Haris Azhar Memfitnah

TNI, Polri, Dan BNN Diminta Tidak Terlalu Cepat Sebut Haris Azhar Memfitnah

JAKARTA, KOMPAS.com — Direktur Eksekutif Respublica Political Institute (RPI) Benny Sabdo menilai, tindakan pihak Tentara Nasional Indonesia (TNI), Kepolisian RI (Polri), dan Badan Narkotika Nasional (BNN) yg melaporkan Koordinator Komisi bagi Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) Haris Azhar atas dugaan pencemaran nama baik tak tepat.

Menurut Benny, seharusnya ketiga institusi tersebut langsung melakukan investigasi internal bagi memverifikasi dan mengklarifkasi pernyataan Freddy Budiman yg dibeberkan oleh Haris.

Benny mengatakan, pengakuan Freddy kepada Haris terkait adanya aliran uang hingga Rp 450 milliar kepada BNN dan Rp 90 milliar kepada pejabat tertentu di Polri serta Bea Cukai jelas mengindikasikan ada permasalahan serius dalam penegakan hukum di Indonesia.

Sementara itu, pemerintah pun sudah menyatakan perang terhadap narkoba.

“Seharusnya itu kan yg didalami, soal keterlibatan aparat, jangan terlalu cepat bilang fitnah. Kalau memang tak benar, ya dibuktikan karena beban pembuktian berada di tangan penyidik kepolisian,” ujar Benny ketika dihubungi, Kamis (4/8/2016).

(Baca: Haris Azhar dan Cerita Freddy Budiman yg Berujung Tuduhan Pencemaran Nama Baik…)

Benny menjelaskan, fokus pihak kepolisian dalam mengungkap dugaan keterlibatan aparat penegak hukum dalam bisnis narkoba tak perlu cuma tertuju kepada sosok Freddy.

Dia berpendapat ada banyak cara yg dapat ditempuh. Sebab, dalam informasi Haris disebutkan adanya pengakuan dari mantan Kepala Lapas Nusakambangan Sitinjak, yg menyebut oknum BNN pernah meminta kamera pengawas di sel Freddy dilepas.

“Lagi pula kan ada pengakuan dari mantan Kepala Lapas Sitinjak. Dia dapat dijadikan saksi. Artinya, polisi dan BNN dapat menelusurinya dari sana,” kata Benny.

(Baca: Haris Azhar: Harusnya Istana Bersuara)

Selain itu, menurut Benny, keterlibatan aparat dalam bisnis narkoba dengan Freddy bukanlah sebuah hal yg baru.

Dia menuturkan, pada tahun 2012, ada beberapa anggota Direktorat Narkoba Polda Metro Jaya, merupakan Aipda Sugito dan Bripka Bahri Afrianto, menjual barang bukti sabu kepada Freddy.

“Mereka berdua telah divonis dan dipecat,” tutur Benny.

Hal senada juga diutarakan oleh pengamat kepolisian Bambang Widodo Umar. Bambang mengatakan, TNI, BNN, dan Polri memang berhak melaporkan Koordinator Kontras Haris Azhar ke polisi atas sangkaan pencemaran nama baik institusi.

(Baca: Jokowi Minta “Curhat” Freddy Budiman Jadi Koreksi Diri Aparat)

Namun, seandainya melihat fakta, kata dia, oknum aparat yg terlibat perkara narkotika memang telah banyak. Mereka terlibat sebagai pengguna maupun peredaran.

“Seperti di Tanjungbalai Karimun lalu ya itu faktanya ada, di Bandung ada, di Medan ada, di Pontianak ada,” kata Bambang ketika dihubungi, Kamis (4/8/2016).

“Artinya, kalau melihat indikator ada kaitannya dengan aparat, kemungkinan-kemungkinan ada aparat yg bermain itu ada karena faktanya ada,” kata pensiunan perwira menengah Polri itu.

Kompas TV Soal Pernyataan Haris Azhar, BNN: Kita Butuh Alat Bukti

Sumber: http://nasional.kompas.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

webcounter