Home » Trending » Muhammadiyah Lebih Memilih Jihad Ekonomi Ketimbang Aksi 2 Desember

Muhammadiyah Lebih Memilih Jihad Ekonomi Ketimbang Aksi 2 Desember

Mau Diskon Rp 250,000? Beli tiket pesawat-nya di Pergi.com Di usianya yg ke 104 tahun, Muhammadiyah tidak ingin terjebak persoalan kebangsaan, khususnya terkait aksi bela Islam jilid III di Jakarta pada 2 Desember. Sebab, Ormas Islam terbesar kedua setelah Nahdlatul Ulam (NU) ini mengaku tuntas berbicara soal NKRI.

Untuk itu, di perayaan hari lahirannya dengan tema: Membangun Indonesia Berkemajuan, pada 26 hingga 27 November 2016 di Bangkalan, Madura, Jawa Timur itu, organisasi didirikan KH Ahmad Dahlan Tahun 1912 tersebut lebih memilih berjihad di bidang ekonomi.

“Kita tak ada persoalan dengan NKRI. Yang perlu diketahui, Muhammadiyah ini tuntas bicara persoalan NKRI. Muhammadiyah lahir sebelum negara ini berdiri. Tahun 1912, Muhammadiyah didirikan, dan Indonesia berdiri pada 1945. Tokoh-tokoh Muhammadiyah juga terlibat aktif mendirikan NKRI,” tegas Ketua PW Muhammadiyah Jawa Timur, Saad Ibrahim di kantornya, Jalan Kerto Menanggal, Surabaya, Jumat (25/11).

Karena alasan itu, Muhammadiyah Jawa Timur enggan membahas persoalan aksi masalah dugaan penistaan agama oleh Gubernur DKI Jakarta non-aktif, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, yg kini akan memunculkan isu “makar” terhadap Pemerintahan Jokowi.

“Makanya kalian tak ingin membahas persoalan tersebut di milad Muhammadiyah yg ke 104 tahun Miladiyah atau 107 tahun Hijriyah nanti. Apalagi soal aksi 411 dan 212. Kita ingin fokus pada jihad di bidang ekonomi demi kemajuan bangsa,” tegas Saad.

Namun, Muhammadiyah tetap tak mampu melarang warganya ikut terlibat aksi bela Islam jilid III mendatang. Sebab, kata Saad, itu adalah hak konstitusi seseorang yg dilindungi oleh undang-undang.

“Jika dilarang, itu justru melanggar hak konstitusi. Memang, kami tak ingin negara ini kacau. Kalaupun ada (yang ikut aksi bela Islam) itu hak konstitusi masing-masing. Kita tak dalam kapasitas melarang atau menganjurkan. Itu personal bukan atas nama organisasi,” ucapnya.

Saad juga tidak menyangkal banyak warga Muhammadiyah ikut terlibat aksi di 4 November tempo hari, termasuk mantan Ketua MPR, Amin Rais dan sejumlah tokoh Muhammadiyah lainnya. Bahkan dimungkinkan, pada aksi 2 Desember nanti, mereka kembali ikut turun jalan.

“Sekali lagi, Muhammadiyah soal NKRI telah selesai. Memang ada. Itu jelas (orang Muhammadiyah ikut aksi bela Islam). Ada berbagai unsur (Ormas) ada di sana (aksi), tetapi tidak ada yg memakai nama organisasi,” dalihnya lagi.

Pun begitu soal larangan Kapolri, Jendral Polisi Tito Karnivian terkait Salat Jumat di jalan ketika aksi 2 Desember nanti digelar. Muhammadiyah tetap pada pendiriannya: Tak ingin terjebak, atau membahas soal aksi bela Islam jilid III.

“Kami tak menyampaikan sah atau tak sah. Orang dalam bepergian saja, salat tak diwajibkan. Apalagi Salat Jumat. Kan tak apa-apa (tidak dikerjakan) kalau sedang bepergian. Itu pertimbangan masing-masing orang,” tuntasnya.Baca juga:
Budayawan nilai aksi salat Jumat di jalan niatnya bukan ibadah
Kapolda Jateng juga keluarkan maklumat cegah warga demo ke Jakarta
Wakapolri berkunjung ke Ponpes Buntet
BEM Perguruan Tinggi Agama Islam tolak aksi demo 2 Desember
Ormas Islam di Medan janji demo 2 Desember bakal damai

Sumber: http://www.merdeka.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

webcounter